<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-321089090168572125</id><updated>2011-04-22T07:46:26.836+09:00</updated><title type='text'>TELADAN</title><subtitle type='html'>&lt;a href="http://arie-nursanti.blogspot.com"&gt;Halaman Depan&lt;/a&gt; | 

&lt;a href="http://foto-arie-nursanti.blogspot.com"&gt;Foto |

&lt;a href="http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com"&gt;Teladan |

&lt;a href="http://video-arie-nursanti.blogspot.com"&gt;Video&lt;/a&gt;|

&lt;a href="http://link-arie-nursanti.blogspot.com"&gt;Link &lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arie Nursanti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-321089090168572125.post-4603147415207690704</id><published>2008-01-31T19:32:00.000+09:00</published><updated>2008-01-31T20:02:54.510+09:00</updated><title type='text'>KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA</title><content type='html'>Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi(1949- 2007) di majalah sastra HORISON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"  href="http://bp0.blogger.com/_k7utpRiekzg/R6Gp9M89JhI/AAAAAAAAAGw/eeDet2ccJ8k/s1600-h/chrisye1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_k7utpRiekzg/R6Gp9M89JhI/AAAAAAAAAGw/eeDet2ccJ8k/s400/chrisye1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161593516857304594" /&gt;&lt;/a&gt;Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAUFIQ ISMAIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, sayapunya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu &lt;br /&gt;bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan&lt;br /&gt;untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. &lt;br /&gt;Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris,maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.&lt;br /&gt;Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi,A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_k7utpRiekzg/R6GqT889JiI/AAAAAAAAAG4/ExxsvEUzZk8/s1600-h/taufiqismail.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_k7utpRiekzg/R6GqT889JiI/AAAAAAAAAG4/ExxsvEUzZk8/s400/taufiqismail.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161593907699328546" /&gt;&lt;/a&gt;Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu &lt;br /&gt;padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah,Chrisye ? Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur&lt;br /&gt;tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam &lt;br /&gt;lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat,lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq&lt;br /&gt;memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba.&lt;br /&gt;Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya &lt;br /&gt;menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh &lt;br /&gt;lagu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dantak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual didalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yangaya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat,&lt;br /&gt;jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium　empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan&lt;br /&gt;Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem.　Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya　kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari&lt;br /&gt;Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tangan dan Kaki Berkata&lt;br /&gt;Lirik : Taufiq Ismail&lt;br /&gt;Lagu : Chrisye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan datang hari mulut dikunci&lt;br /&gt;Kata tak ada lagi&lt;br /&gt;Akan tiba masa tak ada suara&lt;br /&gt;Dari mulut kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata tangan kita&lt;br /&gt;Tentang apa yang dilakukannya&lt;br /&gt;Berkata kaki kita&lt;br /&gt;Kemana saja dia melangkahnya&lt;br /&gt;Tidak tahu kita bila harinya&lt;br /&gt;Tanggung jawab tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbana&lt;br /&gt;Tangan kami&lt;br /&gt;Kaki kami&lt;br /&gt;Mulut kami&lt;br /&gt;Mata hati kami&lt;br /&gt;Luruskanlah&lt;br /&gt;Kukuhkanlah&lt;br /&gt;Di jalan cahaya.... sempurna&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/321089090168572125-4603147415207690704?l=teladan-arie-nursanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/feeds/4603147415207690704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=321089090168572125&amp;postID=4603147415207690704' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/4603147415207690704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/4603147415207690704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/2008/01/ketika-mulut-tak-lagi-berkata.html' title='&lt;center&gt;KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arie Nursanti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_k7utpRiekzg/R6Gp9M89JhI/AAAAAAAAAGw/eeDet2ccJ8k/s72-c/chrisye1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-321089090168572125.post-3103549983788437987</id><published>2007-12-22T00:39:00.000+09:00</published><updated>2008-01-06T01:51:30.882+09:00</updated><title type='text'>"YU TIMAH"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_k7utpRiekzg/R2vgDmKESTI/AAAAAAAAAD8/UbgW2J0YvxA/s1600-h/nenek-qurban.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_k7utpRiekzg/R2vgDmKESTI/AAAAAAAAAD8/UbgW2J0YvxA/s400/nenek-qurban.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146453351587924274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dicuplik dari RESONANSI Republika, Desember 2006, oleh Ahmad Tohari&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;h8&gt;(foto hanya fiktif)&lt;/h8&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.  Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Usia Yu Timah sekitar 50-an, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Menginjak remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran PRT. Dia kembali ke kampung. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.  Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Anak itu pun harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan PRT dan lagi-lagi terdampar di Jakarta .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untunglah di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.&lt;br /&gt;Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. &lt;br /&gt;''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.&lt;br /&gt;''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''&lt;br /&gt;''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''&lt;br /&gt;''Mau ambil berapa?'' tanya saya. &lt;br /&gt;''Enam ratus ribu, Pak.''&lt;br /&gt;''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?'' &lt;br /&gt;Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.&lt;br /&gt;''Saya mau beli kambing qurban, Pak. Kalau 600 ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.'' &lt;br /&gt;Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing qurban. &lt;br /&gt;''Iya, Yu. Senin lusa uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berqurban. Yu Timah bahkan wajib menerima qurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing qurban?'' &lt;br /&gt;''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berqurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging qurban.'' &lt;br /&gt;''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''&lt;br /&gt;Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran qurban yang diwariskan Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu.&lt;br /&gt; Duhai Yu Timah. Kamu yang belum naik haji, atau malah tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berqurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing qurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/321089090168572125-3103549983788437987?l=teladan-arie-nursanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/feeds/3103549983788437987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=321089090168572125&amp;postID=3103549983788437987' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/3103549983788437987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/3103549983788437987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/2007/12/yu-timah.html' title='&lt;center&gt;&quot;YU TIMAH&quot;&lt;/center&gt;'/><author><name>Arie Nursanti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_k7utpRiekzg/R2vgDmKESTI/AAAAAAAAAD8/UbgW2J0YvxA/s72-c/nenek-qurban.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-321089090168572125.post-7108516336178443255</id><published>2007-11-24T22:52:00.000+09:00</published><updated>2007-11-24T23:33:41.222+09:00</updated><title type='text'>QURBAN TERBAIK</title><content type='html'>&lt;CENTER&gt;&lt;I&gt;Oleh: Jojo Wahyudi&lt;/I&gt;&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;&lt;img src="http://i64.photobucket.com/albums/h191/curion123/mygraphics200/animals/119.gif" border=0 alt="MySpace Graphics"&gt;&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim &amp; Nabi Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa harga kambing yang itu pak?" Ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak bisa turun pak?" Kataku mencoba bernegosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" Si pedagang bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf pak, masih jauh." Ujarnya cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih belum nutup pak" Ujarnya tetap cuek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" &lt;br /&gt;Ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah Bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput" &lt;br /&gt;Kata si pedagang meledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. &lt;br /&gt;Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. &lt;br /&gt;Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. &lt;br /&gt;Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" Kataku kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" Katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. &lt;br /&gt;Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" Katanya kagum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua juta tidak kurang tidak lebih kek. " Kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" Kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cari kambing yang lain aja kek." Si pedagang terlihat semakin malas meladeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini), Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. " katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya. &lt;br /&gt;"Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" Lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. &lt;br /&gt;Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" Si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) Si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" Si pedagangyangcukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. &lt;br /&gt;Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing. Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Cikini, 12-11-07)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/321089090168572125-7108516336178443255?l=teladan-arie-nursanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/feeds/7108516336178443255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=321089090168572125&amp;postID=7108516336178443255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/7108516336178443255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/7108516336178443255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/2007/11/qurban-terbaik.html' title='&lt;center&gt;QURBAN TERBAIK&lt;/center&gt;'/><author><name>Arie Nursanti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-321089090168572125.post-3008965724010200875</id><published>2007-11-11T13:09:00.000+09:00</published><updated>2007-11-11T13:35:35.271+09:00</updated><title type='text'>PERANGKAP TIKUS</title><content type='html'>Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendatangi ayam dan berteriak, "ada perangkat tikus". Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata " Aku turut bersimpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi&lt;br /&gt;perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata, "Ahhh... perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia&lt;br /&gt;akan menghadapi bahaya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hikmah yang aku ambil dari cerita di atas:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mendapati teman atau seseorang dalam kesulitan, kemudian kita mengira bahwa urusan tersebut bukan urusan kita, pikirkanlah sekali lagi. Tetapi bukan berarti kita harus ikut campur dengan urusan mereka. Jika mereka membutuhkan tempat untuk menangis, sandarkanlah bahu kita kepadanya. Jika mereka membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah, berikanlah sikap bahwa kita siap mendengarkannya. Jika mereka membutuhkan bantuan kita dan kita memang mampu, ulurkanlah tangan kita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/321089090168572125-3008965724010200875?l=teladan-arie-nursanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/feeds/3008965724010200875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=321089090168572125&amp;postID=3008965724010200875' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/3008965724010200875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/321089090168572125/posts/default/3008965724010200875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teladan-arie-nursanti.blogspot.com/2007/11/perangkap-tikus.html' title='&lt;center&gt;PERANGKAP TIKUS&lt;/center&gt;'/><author><name>Arie Nursanti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
